SELAMAT DATANG DI BLOGNYA ALFATH.JaNgAn LuPa CoMmEn Ya,,,,,,!!! Terimakasih,,Semoga Kita Semua Selalu Mendapatkan Ridho Allah SWT,,,AMIN,,,!!! دين الإسلام

Fire Rainbow Berlafadz Allah di Bandung


Sebuah fenomena luar biasa terjadi di langit bandung hari ini (26/05/2010). Seorang mahasiswa ITB berhasil mengabadikan fire rainbow yang membentuk tulisan arab berupa ALLAH.

Mahasiswa yang tidak beragama islam ini tidak mengetahui fire rainbow itu membentuk tulisan ALLAH, dia hanya berkata bahwa fire rainbow itu menyerupai tulisan Arab.

Saat diteliti kebenarannya apakah foto itu benar ada atau hanya hasil editing, ternyata foto tersebut terbukti keabsahannya karena ada salah seorang warga bandung yang juga mengakui bahwa ia sempat mengabadikan fenomena luar biasa tersebut.




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJZnZGloetAuiC9zIgAEITCzT0089OPxB-n_wiHyz7eeo8Ju5UtOCFbwrdRAJtlpQXR_cBmdpzhlg7E0FTkCfYLySAFX6zNbDHWFMDG23FUVigo2-TqhQdZ_JbXpC26IRlotI1WqZFO0o/s1600/awan-Allah.jpg



sumber :http://gokilonline.com/fire-rainbow-berlafadz-allah-di-bandung/
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kriteria Manhaj Salafi yang Benar

Wawan Kardiyanto 22 Januari jam 17:02


Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :

Berpegang pada nash-nash yang ma'shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.

Mengembalikan masalah-masalah "mutasyabihat" (yang kurang jelas) kepada masalah "muhkamat" (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath'i.

Memahami kasus-kasus furu' (kecil) dan juz'i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.

Menyerukan "Ijtihad" dan pembaruan. Memerangi "Taqlid" dan kebekuan.

Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.

Dalam masalah fiqh, berorientasi pada "kemudahan" bukan "mempersulit".

Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.

Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.

Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.

Menekankan sikap "ittiba'" (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat "ikhtira'" (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.

Inilah inti "manhaj salafi" yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur'an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur'an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan "negara ilmu dan Iman". Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.

(disalin dari buku "Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah" karya Dr.Yusuf Al Qordhowi, edisi terjemahan Penerbit Usamah Press)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

PERSAUDARAAN BESAR UMAT ISLAM yang tak pernah terpikirkan

Wawan Kardiyanto 19 Januari jam 7:07 in facebook,,


Tatkala jutaan jamaah haji sedang menunaikan sholat pada bulan Muharam dengan Ka'bah sebagai porosnya, apa yang dapat kita bayangkan? Jutaan manusia berpakaian putih bersih dan suci bersujud kepada Allah Sang Pencipta dengan membentuk lingkaran besar yang menakjubkan dengan Ka'bah berwarna
hitam sebagai porosnya. Ka'bah adalah simbol persatuan dan kesatuan umat Islam sedunia dan bukan batu hitam yang disembah. "...dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu sekarang (Masjidil Ha ram dengan Ka'bahnya) melainkan agarKami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti rasul dan siapa yang membelot" (QS,2;143)

Ketakjuban akan bertambah bila kita juga mampu membayangkan milyaran orang-orang Muslim yang bersujud (sholat) kepada Allah dengan membentuk lingkaran besar dunia dan ka'bah sebagai porosnya lima kali setiap harinya.

Gambaran di atas bukan khayalan, tetapi kenyataan besar bahwa begitu indahnya persatuan dan kesatuan umat Islam tanpa kita sadari. Kesadaran kita pun akan diingatkan tatkala kita memahami arti bacaan sholat. Puji-pujian kepada Allah dan doa-doa keselamatan manusia setiap lima kali sehari dikumandangkan oleh milyaran umat Islam. Dzikir dunia itu bila dapat kita dengar betapa indahnya.
Dzikir dan doa-doa keselamatan manusia yang lima kali, 27 rokaat setiap hari dikumandangkan oleh milyaran umat Muslim secara alami ini adalah bukti terbesar persaudaraan umat Muslim. Kita kebanyakan tidak menyadari kenyataan besar ini bahwa kita (umat Muslim) adalah bersaudara.

Lalu, bagaimana kita (umat Muslim) akan lebih dapat menyadari keberadaan persaudaraan besar ini? Apa yang harus dilakukan?

Dakwah adalah jalan satu-satunya. Dakwah yang bagaimana? Dakwah yang dapat mengikat simpul-simpul umat Muslim dalam tali Allah yang kuat. Bagaimana caranya, apakah selama ini dakwah yang telah dilakukan tidak optimal?

Boleh jadi dakwah kita memang belum optimal. Sebagai suatu perbandingan, saudara kita umat Nasrani, mereka mampu menghadirkan para Pendeta dan Pastur (Romo) di hati tiap-tiap keluarga Nasrani. Seorang Pendeta ataupun Romo telah menjadi dokter (Rohaniwan) pribadi di tiap keluarga umat Nasrani.

Sedang kita umat Muslim? Memelihara masjid saja masih belum optimal, apalagi memelihara keimanan hati tiap-tiap keluarga Muslim. Padahal umat Islam adalah umat terbaik;

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dan kemungkaran dan beriman kepada Allah." (QS. 3:310) Dan Islam adalah kebenaran yang diridloi oleh Allah; "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Aku ridloi Islam itu sebagai agamamu.n (QS.4:3)

Dan terakhir, Islam adalah agama dakwah;
"Hendaklah setiap kamu menjadi sekelompok aktifis yang menyeru kepada kebajikan dan menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung". (QS. 3:104)

PPU-IRA ingin berbagi mimpi indah itu bersama dengan setiap hati dipenjuru umat....
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Bagaimana Menundukkan Hawanafsu?

Ferry Djajaprana 17 Januari jam 20:59 in facebook,,,


Hawa umumnya diartikan sebagai kecenderungan. Hawa nafsu merupakan keadaan kejatuhan nafs ke dalam hal-hal yang dilarang oleh Tuhan atau hal-hal negatif.
Dalam QS 23:71 menyebutkan bila kita tunduk pada desakan hawa, maka tata kehidupan manusia akan rusak.
Hal ini juga diingatkan pada QS 6:119 dan QS 4:135.
Hawa yang selalu dituruti maka akan menjadikannya sebagai Tuhan. QS 25:43
"Terangkan kepadaku tentang orang yang menjadikannya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?"

Menurut QS 79:40-41, hanya orang yang takut kepada Allah lah yang mampu menahan hawa nafsunya. Perasaan takut kepada Tuhan didahului oleh ilmu sehingga orang yang punya ilmu saja yang takut kepada Tuhan.

Dalam bahasa Psychology hawa nafsu diartikan keinginan diri, sedangkan nafsu adalah egoisme. Kecenderungan kita adalah untuk memuaskan keinginan-keinginan jasmaniah, merasa dianggap penting dsb.

Dalam pembahasan tasawuf, hawa nafsu itu memiliki kekuatan yang dibawa sejak lahir (Bahasa psychology : motive atau drive).

Dalam diri kita bersemayam tiga kekuatan hawa nafsu. Pertama, kekuatan kebinatangan (quwwah bahimiyah). Kekuatan dalam diri kita ini mendorong untuk mencari kepuasan lahiriah. Kedua, disebut kekuatan binatang buas (quwwah sabi'iyah). Kita senang menyerang orang lain, memakan hak orang lain atau membencinya. Ketiga, kekuatan setan (quwwah syaytaniyah),, ini adalah kekuatan membenarkan kejahatan yang telah dilakukan.

Selain diisi nafs, dalam tubuh manusia juga memiliki ruh, yang memiliki potensi (motive) yang berasal dari cahaya-Nya, kekuatan ini disebut (quwwah rabbaniyah). Ahli psikologi menyebutnya potensi keberagamaan, posisi ini ada pada akal sehat. Sufi menyebutnya hati nurani.
Apabila kita mengerjakan sesuai hawa nafsu maka hakikatnya kita adalah binatang secara ruhaniah, walaupun ujud fisiknya adalah manusia. Bahkan Al Quran menyebutnya lebih rendah dari binatang alasannya binatang tidak diberi akal fikiran, tetapi manusia memilikinya sementara tidak difungsikan. Apabila kita senang dengan sifat-sifat negatif seperti marah, dendam, benci, iri-hati, hasud/dengki. Bahkan bila kita membenarkan kesalahan kita maka hakikatnya kita adalah setan yang berujud manusia. Sebaliknya bila hati nurani/qolbu/akal sehat kita difungsikan dengan baik sehingga mampu mengalahkan ketiga hawa nafsu, maka kita akan dibimbing oleh hatinurani/akalsehat/qolbu untuk berjalan mendekati Allah Ta'ala.

Al Ghazali menggambarkan qolbu itu seperti cermin, sedangkan noda-noda dosa ini seperti kotoran, hawa nafsu itu seperti cermin yang kotor, sehingga bila cermin itu dibersihkan maka ruhaniyah kita menjadi transparan. Sehingga ruhani kitapun mampu mendekati Allah Taala.

Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Akhlak Al Karima

Ferry Djajaprana 17 Januari jam 11:48 in facebook,,,,



Psichology dan Ahlak
Prof. Achmad Mubarok 1), menjelaskan dalam tulisannya yang dihubungkan antara psichology dan akhlak bahwa manusia adalah makhluk yang bisa menjadi subyek dan obyek sekaligus. Manusia bisa mempertanyakan tentang diri sendiri. Diantara yang dipertanyakan oleh manusia adalah tentang jiwa. Pertanyaan tentang jiwa dijawab oleh filsafat, psikologi dan agama. Plato misalnya sudah menyatakan bahwa manusia adalah jiwanya, sedangkan tubuhnya hanyalah sekedar alat saja. Aristoteles, berbeda dngan Plato mengatakan bahwa jiwa adalah fungsi dari badan sebagaimana penglihatan adalah fungsi dari mata. Kajian tentang jiwa di Yunani selanjutnya menurun bersama dengan runtuhnya peradaban Yunani. Runtuhnya peradaban Yunani Rumawi memberi peluang kepada pemikir-pemikir Islam mengisi panggung sejarah. Melalui gerakan penterjemahan dan kemudian komentar serta karya orisinil yang dilakukan oleh para pemikir Islam terutama pada masa Daulah Abbasiyyah, esensi dari pemikiran Yunani diangkat dan diperkaya, dan selanjutnya melalui peradaban Islamlah Barat menemukan kembali kekayaan keilmuan yang telah hilang itu.

Psikologi (Ilmu Jiwa) yang lahir pada akhir abad 18 M mestinya dikatakan sebagai ilmu yang berbicara tentang jiwa sebagaimana lazimnya definisi ilmu pengetahuan, tetapi Psikologi tidak berbicara tentang jiwa. Ia berbicara tentang tingkah laku manusia yang diasumsikan sebagai gejala dari jiwanya. Penelitian Psikologi tak pernah meneliti jiwa manusia, yang diteliti adalah tingkah laku manusia melalui perenungan, pengamatan dan laboratorium, kemudian dari satu tingkah laku dihubungkan dengan tingkah laku yang lain selanjutnya dirumuskan hukum-hukum kejiwaan manusia.

Ilmu semacam Psikologi tidak lahir dari sejarah keilmuan Islam, padahal jiwa (nafs) disebut lebih dari 300 kali dalam al Quran. Berbeda dengan sejarah keilmuan Barat yang berlawanan dengan agama (gereja), pertumbuhan ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam justeru berada dibawah panduan para ulama. Jiwa dalam ilmu keislaman tidak dibahas sebagai perilaku, tetapi dibahas dalam konteks hubungan manusia dengan Allah SWT, maka yang lahir adalah Ilmu Akhlak. Jika Psikologi bertugas menerangkan, meramalkan dan mengendalikan perilaku, Ilmu Akhlak berbicara tentang perilaku yang baik dan yang buruk dan bagaimana membentuk perilaku yang baik, Ilmu Akhlak berbicara tentang bagaimana jiwa manusia dapat merasa dekat dengan Allah SWT.

Al Akhlaq Al Karimah/Al Akhlaq al-Mahmudah Berdasarkan Mudawamah Dzikrillah.
Di dalam buku Al Akhlaq Al Karimah/Al Akhlaq al-Mahmudah Berdasarkan Mudawamah Dzikrillah2) , Abah Anom menjelaskan bahwa pengendalian terhadap keinginan seseorang adalah termasuk jihad akbar dan merupakan perjuangan yang terbesar, untuk itu bagi manusia yang mampu mengendalikan keinginannya bisa dianggap sebagai manusia mulia.
Penyakit hati terjadi bila kita mengikuti keinginan setan, Contohnya adalah ketidaktahuan, kecemburuan, kekerasan, munafik, angkuh, merasa bangga atas ketidak imanan, liar, ketidak adilan dan kekasaran yang berakibat manusia menjadi individualistik. Jika penyakit ini terus tumbuh maka perkembangan manusia khusunya masyarakatnya dan umumnya bangsanya akan terganggu dan akhirnya gagal.
Kekuatan iman yang memurnikan jiwa dapat membersihkan mereka dari penyakit hati. Iman dapat memotivasi manusia untuk meningkatkan taraf hidup mereka, dan membawa kesejahteraan, kebahagiaan, kesehatan, dan kemajuan lahir dan bathin baik bagi individu maupun masyarakat. Iman perlu dipelihara karena sebagai tanggung jawab manusia dalam hubungannya dengan Allah (habl min Allah) dan hubungan dengan sesama manusia (habl min al nas). Hal ini sesuai denganAl Q'uran surat An Nur 37 3),
dan hadits 4) tentang pentingnya berdzikir agar orang selalu ingat Tuhan, bersedekah yang mendasari inti kebajikan dalam melakukan hab min Allah dan juga dalam kaitannya dengan hubungan dengan manusia (habl min al nas).
Hati yang selalu berdzikir, adalah hati yang selalu berdenyut dengan irama keagungan Allah. Fikirannya selalu bersyukur kepada Allah. Seluruh hidupnya dipersembahkan untuk Allah sebagai mahabbah yang terdispersi pada sesamanya dan semesta alam.

Bibliography :

1) Prof. Ahmad Mubarok, Artikel lepas Ilmu Ahlak
2) KHA. Shohibul Wafa Tajul Arifin, Al Akhlaq Al Karimah/Al Akhlaq al-Mahmudah Berdasarkan Mudawamah Dzikrillah, Kutamas, Tasikmalaya, 1983
3) QS. An Nur [24]: 37 "Manusia seperti itu adalah orang yang selalu melaksanakan dzikrullah, tidak sedang dialihkan dari, atau yang sedang dipengaruhi oleh aktivitas kesehariannya; Sebaliknya, ia istiqomah, dalam melakukan shalat dan bersedekah."
4) Hadits Nabi Muhammad Saw :" Mengingat Allah dapat memperoleh obat mustajab untuk menyembuhkan semua penyakit hati" dan hadits lainnya "Sesungguhnya untuk segala perkara itu ada obat pencucinya, sedangkan obat pencuci hati adalah dzikir (ingat hati) kepada Allah."

Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Bagaimana Tuhan Merekayasa, Merencana, Membuat dan Menghancurkan Jagat Raya

Wawan Kardiyanto 15 Januari jam 12:20

in facebook,


...... menurut Abdu al Razzaq Naufal, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa alam semesta terbagi ke dalam dua alam, yaitu alam yang tampak (fisikal) dan alam yang tak tampak (nonfisikal). Yang pertama adalah segala yang tampak baik dengan mata telanjang atau pun dengan alat. Dan alam yang tidak tampak merupakan kenyataan yang tidak diragukan lagi. Menurut para ulama sekarang bahwa alam yang tak tampak adalah lebih luas dan lebih sarat dengan isinya dibandingkan dalam alam yang tampak. Dalam surah Al Haaqqah,69:38-40 Allah telah bersumpah dengan kedua alam ini:

فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ# وَمَا لَا تُبْصِرُونَ#

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

“Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya AlQur ‘an itu adalah benar-benar wahyu Allah (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.”

Sedang dalam surah Al A’raf, 7:27 Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya syaitan dan bala tentaranya melihat kita, tetapi kita tidak melihat mereka:

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

“Hai anak Adam janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperhatikan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”

Dalam surah Al Nisaa, 4:153 Allah mencerca orang-orang yang mengaku bahwa satu-satunya sumber informasi tentang alam fisik adalah melalui pengamatan pancaindera.

يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَن تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَاباً مِّنَ السَّمَاءِ فَقَدْ سَأَلُواْ مُوسَى أَكْبَرَ مِن ذَلِكَ فَقَالُواْ أَرِنَا اللّهِ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ثُمَّ اتَّخَذُواْ الْعِجْلَ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَفَوْنَا عَن ذَلِكَ وَآتَيْنَا مُوسَى سُلْطَاناً مُّبِيناً

“Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar daripada itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata. “Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.”

Berita alQur’an di atas temyata relevan dengan hasil yang diperoleh ilmuwan modern dalam bentuk teori-teori hasil penelitian ilmiahnya. Teori-teori. tersebut adalah teori Relativitas Umumnya Einstein (klasik) dan teori Fisika Quantumnya Plank seperti yang telah kita singgung di atas.

Pertama, teori Relativitas Umum Einstein, mampu menjelaskan kosmologi atau alam semesta, makrokosmos yang tampak. Dan kedua, teori Quantum Plank, mampu menjelaskan lingkup atau obyek yang sangat-sangat kecil hingga tak terinderakan (gaib), mikrokosmos (alam semesta yang tak tampak). Dan tampaknya kita perlu memahami keduanya secara garis besar dalam konteks isu penciptaan alam semesta (universe) ini.

...untuk yg berminat meneruskan bacaannya silahkan klik di sini:

http://wawankardiyanto.wordpress.com/2008/06/11/bagaimana-tuhan-merekayasa-merencana-membuat-dan/
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

CARA MEMILIH SAHABAT yang "SEJATI"

Wawan Kardiyanto 05 Januari jam 6:28 in face book,,,,



Cara memilih seseorang yang ingin kita jadikan sahabat silahkan simak wasiat al-Qamah kepada anaknya.

Katanya: "Hai anakku, jika engkau perlu untuk bersahabat dengan seseorang maka pilih yang mempunyai sifat jika engkau melayaninya ia suka melindungi, jika engkau bersahabat dengannya, ia akan menjadi hiasan bagi dirimu dan jika engkau dalam keadaan kekurangan nafkah, ia suka mencukupi keperluanmu. .

"Pilih sahabat yang apabila engkau mengulurkan tanganmu untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, ia suka menerima dengan rasa terharu, jika ia melihat kebaikan yang ada pada dirimu, ia suka menghitung dan dianggapnya sangat berguna, sedangkan jika ia mengetahui keburukan dirimu lalu ia suka menutupinya.

"Pilih sahabat yang jika engkau meminta sesuatu daripadanya, pasti ia memberi, jika engkau diam, ia mulai menyapamu dulu dan jika ada sesuatu kesukaran dan kesedihan menimpa dirimu, ia suka membantu dan meringankan, ia suka membantu dan meringan kamu serta menghiburmu.

"Pilihlah sahabat yang jika engkau berkata, ia sukar membenarkan ucapanmu dan bukan selalu mempercayainya saja, jika engkau mengemukakan sesuatu persoalan berat, ia suka mengusahakannya, sedang jika engkau berselisih dengannya, ia suka sekali engkau berselisih dengannya, ia suka sekali mengalah untuk kepentinganmu. "

Saidina Ali menyatakan: "Sahabat yang sebenar-benarnya ialah orang yang di sampingmu. Ia suka menempatkan dirinya dalam bahaya demi untuk kesejahteraanmu. "

Saidina Ali membuktikan katanya dengan mengambil alih tempat tidur Rasulullah SAW ketika Baginda dan Saidina Abu Bakar merancang untuk berhijrah ke Madinah.

Walaupun Saidina Ali tahu risiko bakal dihadapinya karena pemuda Quraisy bercadang menyerbu rumah Rasulullah SAW dan membunuh Baginda, Saidina Ali sanggup menghadapi bahaya itu semata-mata atas dasar kepentingan keselamatan sahabatnya.

Contoh persahabatan lain yang boleh diteladani ialah antara Saidina Abu Bakar dengan Rasulullah SAW. Saidina Abu Bakar sentiasa mempercayai dan mengiyakan apa yang Rasulullah SAW katakan.

Ketika Rasulullah SAW menceritakan perjalanan Israk dan Mikraj kepada orang Makkah, mereka tidak mempercayai cerita Rasulullah SAW, malah menuduh Baginda pembohong.. Mereka berjumpa Saidina Abu Bakar untuk bertanya jika cerita itu benar atau sebaliknya.

Apabila Saidina Abu Bakar mendengar pertanyaan mereka, dengan tenang beliau bertanya: "Apakah benar Rasulullah SAW bercerita begitu". Mereka menjawab 'ya'. Maka tanpa ragu-ragu Saidina Abu Bakar menyatakan apa yang Rasulullah SAW katakan benar.

Sepanjang perjalanan dari Makkah ke Madinah, Saidina Abu Bakar sentiasa berada di depan dan di belakang Baginda SAW. Apabila Baginda bertanya hal ini, Saidina Abu Bakar menjawab:

"Aku berjalan di depanmu untuk memilih jalan yang baik selamat sementara aku berjalan di belakangmu untuk menjaga keselamatan daripada serangan musuh yang mengejarmu."

Perhatikan nasihat Abu Sulaiman mengenai pentingnya memilih sahabat seperti yang dianjurkan Islam. Katanya: "Jangan sekali-kali engkau bersahabat melainkan salah satu daripada dua orang ini. Pertama, orang yang dapat engkau ajar bersahabat dalam urusan duniamu dengan jujur dan kedua, orang yang dijadikan sahabat itu dapat menambahkan kemanfaatan dirimu untuk akhiratmu.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Copyright 2009 دين الإسلام
Free WordPress Themes designed by EZwpthemes
Converted by Theme Craft
Powered by Blogger Templates